Kamis, 07 Juni 2018

31B. Lansia Buta (Bgn 2)

Lansia Buta Melafal Amituofo 
Terlahir ke Alam Sukhavati
(Bagian 2) 




 

13. Putrinya pulang dan menetap di rumah untuk menjaga Xiumei selama beberapa hari, tetapi tidak tahan dengan keluhan Xiumei, akhirnya kembali ke rumah Mertuanya, hanya saja setiap hari pasti menelepon menanyakan kabar serta mengantar rantang buat Xiumei.




14. Kesedihan tak sebanding dengan hati yang sudah mati, Xiumei hidup sebatang kara di rumah, sepasang matanya buta, juga tidak punya teman bicara, setiap hari hanya bisa membereskan rumah dan makanan, melewati hidup tanpa tujuan.




15. Tahun 1998, Xiumei telah berusia 73 tahun, kemenakannya (putri dari adik laki-lakinya) memberinya satu unit mesin pelafal Amituofo, menasehatinya kalau ada waktu luang, mendengar dan mengikuti suara lafalan Amituofo, jangan banyak berpikir. Sejak itu perlahan pikiran Xiumei mulai tenang.



 

16. Bulan Mei 2006, adik laki-laki Xiumei meninggal dunia. Adik laki-lakinya telah mengadopsi dan membesarkan putra kandung Xiumei, Xiumei amat berterimakasih. Xiumei yang kini berusia 81 tahun menghadiri upacara perkabungan adiknya, se-kali lagi dia menangis dengan memilukan sekali, sampai-sampai membenturkan kepalanya ke peti mati, sambil membenturkan kepala sambil berkata : “Kamu orang yang begitu baik, kenapa mati duluan? Sedangkan saya yang sebatang kara dan sudah sekarat ini, seharusnya mati duluan barulah betul!”



 

17. Kemenakan-nya bilang padanya : “Ayahku tidak mati, beliau kini terlahir ke Alam Sukhavati menikmati kebahagiaan Dharma. Kalau Bibi memang merindukannya, maka harus melafal Amituofo, tiba saatnya nanti, Buddha Amitabha akan menjemputmu terlahir ke Alam Sukhavati, maka kalian kakak dan adik dapat berkumpul buat selamanya, takkan terpisah lagi”.



 

18. Setelah mendengarnya Xiumei merasa sangat gembira, lalu berkata : “Baiklah! Saya pasti terlahir ke Alam Sukhavati supaya bisa berkumpul kembali dengan Ayahmu”. Kemenakan-nya menyerahkan kepada Bibinya, mesin pelafal Amituofo dan tasbih yang digunakan Ayahnya semasa hidup, sebagai kenang-kenangan.

19. Sejak itu, Xiumei setiap hari melafal Amituofo, baik berjalan, berdiri, duduk maupun berbaring, mengikuti suara mesin pelafal Amituofo, siang malam melafal berkesinambungan tak terputus.

20. Namo Amituofo, Namo Amituofo, Namo Amituofo.............

21. Bulan November 2009, keluarganya mengira Xiumei kembali pikun, dia menelepon kemenakan-nya, bilang Buddha Amitabha datang menengoknya, tidak lama lagi akan membawanya pulang.

22. Biasanya di rumah dia cuma memakai kaus kaki, kali ini dia meminta pertolongan orang lain membelinya sepasang sepatu bersulam indah, lalu menaruh pakaian kesukaannya di atas tempat tidurnya, katanya supaya saat ajal tiba, tidak perlu sibuk mencari lagi.

23. Yang lebih mengherankan adalah dia mulai menyampaikan pesan wasiatnya, rumahnya diserahkan kepada siapa, uangnya diserahkan kepada siapa, semua urusan dipesannya dengan sangat jelas dan terperinci, bahkan juga berpesan supaya abu kremasinya ditaruh berdampingan dengan tempat abu kremasi adiknya. Ketika keluarganya memberitahunya bahwa cucunya akan menikah bulan Desember nanti, Xiumei bilang dia tidak sempat menghadirinya, tidak lama lagi dia akan pergi mengikuti Buddha Amitabha.

24. Tanggal 8 Desember, Xiumei berada sendirian di rumah dan diam-diam pergi meninggalkan dunia ini buat selama-lamanya. Tetapi kali ini, yang datang menjemputnya bukan lagi Malaikat Maut yang memegang Celurit, namun Buddha Amitabha yang menggenggam Bunga Lotus, beserta para Bodhisattvaya Mahasattvaya.



 

25. Pagi harinya, ketika putrinya datang mengantar rantang, menemukan Xiumei telah meninggal dunia, segera menghubungi kemenakan Xiumei yang segera menuju lokasi kejadian.



 

26. Sesampainya di rumah Xiumei, kemenakannya mendorong pintu kamar mendiang, pemandangan yang tampak di hadapannya membuatnya amat terharu.



 

27. Lansia yang sejak awal menderita kebutaan, tidak tahu sejak kapan merias dirinya sendiri dengan rapi dan cantik------rambutnya disisir dengan begitu rapi, tubuhnya mengenakan pakaian yang indah, tangannya menggenggam tasbih yang dihadiahkan kemenakan-nya, sepasang kakinya mengenakan sepatu baru, wajahnya memancarkan kedamaian, tampaknya sudah beberapa jam yang lalu, beliau mengikuti Buddha Amitabha terlahir ke Alam Sukhavati.

Disadur dari :